Beranda Cinta

Icon

“Happy Birthday”

Happy Birthday ayah

“Semoga panjang Umur, sehat selalu, tercapai semua yang sedang ada dalam doa-mu..semoga perjalanannya ke cairo nanti selamat…dan segera pulang kembali dengan selamat pula”

“Semoga Allah selalu mendekapmu erat yah…. malaikat menjagamu ketat…. Bukan hanya untuk menjadikanmu baik-baik saja…..tapi juga untuk dapatkan yang terbaik dalam kehidupanmu….

Amin…”

By : Diajeng

Filed under: Religi ,

“Renungan Kehidupan”

Assrain4

Sekedar perenungan buat kita semua…..

Hari ini sebelum kita berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar – Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum kita mengeluh mengenai cita rasa makanan kita – Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kita sama-sama mengeluh tentang pasangan kita – Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup kita – Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.

Sebelum kita mengeluh tentang sodara-saodara kita – Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan mempunyai sodara, tetapi tidak mendapatnya.

Sebelum kita bertengkar karena rumah kita yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai – Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.


Sebelum kita merengek karena harus menyopir terlalu jauh – Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika kita lelah dan mengeluh tentang pekerjaan kita masing-masing – Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaan itu.

Sebelum kita menuding atau menyalahkan orang lain – Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.


Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkan kita berdua – Pasanglah senyuman di wajah dan berterima kasihlah pada Tuhan karena kita masih hidup dan ada di dunia ini

Hidup adalah anugrah liebe  :) …jalanilah dan nikmatilah dengan penuh rasa syukur

rain3

Filed under: Religi

Harapan itu Masih Ada

Manusia adalah sosok yang istimewa, memiliki indra perasa dan juga akal sebagai pembeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. begitu tingginya nilai akal bagi seseorang, karena tanpa akal manusia sudah tidak dapat dibedakan lagi dengan binatang. Bentuk penghambaan manusia terhadap akal terkadang bisa melupakan pada siapa yang telah menciptakan akal tersebut.

Kita tidak pernah menafikan perintah Al Qur’an untuk menggunakan akal, agar selalu berfikir dan menganalisa. dan natijah (hasil) dari proses berfikir kita terhadap sesuatu apapun, disadari ataupun tidak, kita akan menyimpulkan bahwa hanya Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya, bahwa Allah-lah yang Maha Besar dan paling berhak untuk disembah.

Ada segolongan manusia yang begitu mendewakan akal sehingga segala sesuatunya haruslah selaras dan rasional, puncak tertinggi dari golongan ini akan menghambakan dirinya terhadap akal, sehingga melupakan Dzat pemberi akal, yakni Allah Swt. Na’udzubillah.

Dengan menyadari betapa Agungnya Sang Pencipta, pengabdian seseorang akan lebih tulus dan ikhlas karenanya, sebab keberadaan kita di muka bumi semata-mata untuk mengabdikan diri terhadap-Nya, sebagaimana difirmankan dalam Al Qur’an :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat: 56).

pengabdian seorang hamba terhadap Tuhannya adalah sebuah proses untuk menuju ketaqwaan. Dalam ayat lain disebutkan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa ;

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah: 177)

manusia hanya bisa berusaha untuk meraih predikat “taqwa”, iman seseorang dan semangat untuk melaksanakan ritual keagamaan (sholat, puasa, haji, dll) tak pernah stabil, ia selalu berubah, terkadang bertambah dan terkadang berkurang seiring dengan kondisi kejiwaan ataupun lingkungan dimana dia tinggal. kita hanya bisa terus berusaha sekuat tenaga untuk meraih predikat tertinggi dihadapan Tuhan, dengan terus saling mengingatkan antara sesama muslim, muhasabah annafsi (introspeksi diri), mengoptimalkan pemberian Tuhan berupa akal dan hati nurani sehingga menyadari akan kebesaran dan kekuasaan-Nya, berdzikir, membaca kalam-Nya yang tersirat dan tersurat, serta usaha-usaha lain untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya, karena harapan itu masih ada selama kita tetap pada jalur yang digariskan oleh pembawa risalah Tuhan yang terakhir, Nabi Muhammad SAW.

Filed under: Religi

Menikmati Indahnya Mentari

Jam tiga dini hari dia beranjak dari tempat tidurnya, setelah membersihkan badan sekedarnya, sosok renta itu menapaki jalanan yang masih sangat sepi menuju “Al Hikmah”, sebuah Masjid Agung yang terletak di sebuah perkampungan di lereng gunung slamet.

Sesaat setelah melaksanakan tahiyyatul masjid dia menyalakan pengeras suara yang terletak di dekat mimbar membangunkan hati yang masih terlelap tuk menyambut dua raka’at shubuh.

himbauan dan anjuran yang ia sampaikan terdengar parau, mengingat usianya yang sudah semakin senja, namun dibalik kelusuhannya tersimpan keikhlasan yang begitu mendalam, mengabdi semata kepada Sang Kholiq dengan segala cara yang bisa ia lakukan. waktu terus berlalu, nampak ruangan masjid masih belum juga dipadati oleh orang-orang yang hendak melaksanakan jama’ah sholat shubuh. kembali ia menyalakan microphone mengulang kalimat serupa membangunkan warga sekitar yang masih terlelap dibalik selimut tebalnya masing-masing dan mengajak mereka untuk bergegas menuju ke masjid.

Udara di lereng gunung serasa menusuk tulang, terlebih saat pagi menjelang, betapa sulitnya membuka mata dan beranjak ke masjid dalam hawa dingin yang sangat. waktupun terus beranjak tanpa hiraukan kondisi penduduk sekitar bangunan masjid yang masih terlelap. hingga adzan shubuh dikumandangkan, hanya segelintir orang yang mampu melawan hawa dingin dan rasa kantuknya mendatangi panggilan illahi.

Rasa kecintaan terhadap Tuhan selalu di uji, tapi seperti itulah cinta… cinta terhadap sang pemilik alam semesta ini, sampai dimana pengorbanan kita untuk mendapatkan cinta sang maha pencipta? Berjuanglah!

Semoga kelak kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi.

Filed under: Religi

Wanita di Ujung Senja

Peluhnya masih bercucuran membasahi baju hitamnya yang sudah semakin lusuh. Jalannya tergopoh menahan derita dipundaknya yang tak kunjung reda, cobaan dan terpaan dari sang pemilik kerajaan langit dan bumi tak membuatnya redup. Tangisan bocah dalam gendongannya seolah meneriakkan kepada wanita tua itu untuk tetap tegar menapaki hari walau tanpa lelaki yang menjadi tumpuan dan sandaran jiwanya.

Kereta masih terus berjalan melintasi sawah-sawah para petani yang nampak sudah mulai menguning, dan terlihat kebun-kebun buah yang siap untuk di panen, menyambut musim panas, membasahi kerongkongan penduduk negeri gurun yang lelah dan dahaga.

Sejenak kedua mata itu menatapku dengan tajam, membelalakan kedua bolamatanya yang tersembunyi dalam kepiluan, sesaat kemudian senyumannya tersungging diantara kedua bibirnya yang semula tertutup rapat, nampaknya, tak ada sisa makanan yang ia dapatkan di senja ini. Dia terus menatapku yang terselip diantara lelaki berjubah putih berjenggot tebal dan panjang. Sosokku yang terlihat aneh diantara kerumunan membuat wanita renta itu berjalan mendekat, menjulurkan tangan kanannya yang tergetar dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

Kusambut tangan lembut itu dengan selembar poundsterling, dengan harapan dari yang kecil ini, dapat membantunya mengiringi langit senja yang semakin memerah. Dalam kegirangannya, bocah kecil dalam gendongan yang sedari tadi menangis pilu, kini suaranya berangsur pelan dan semakin terdengar lirih. Dari kedua bibirnya terucap

“Syukron Yabni, Rabbana naggahku”

Terima kasih nak, semoga Tuhan menyelamatkanmu.

Keretapun terus berjalan menyusuri lajurnya, tanpa hiraukan antrian kendaraan disetiap pintu lintasan kereta, melaju kencang menembus kerumunan dan lorong-lorong tuk menepati janjinya mengantarkan penumpang sampai di cairo dengan selamat.

(Sebuah Perjalanan dari Alexandria – Cairo)

***

Sahabat, ada secuil rezeki mereka yang Allah titipkan pada kita. Akankah kita biarkan nenek tua yang merajuk di jalanan mengais sisa-sisa makanan, berharap sekocek receh dari para penderma. Mungkinkah hati kecil kita tak pernah berontak melihat anak jalanan yang telah dirampas usianya demi bertahan hidup, mereka mengorbankan masa belajarnya, meninggalkan bangku sekolah yang kelak menjadi tumpuan masa depan dan cita-citanya sekedar untuk mencari sesuap nasi?

Filed under: Religi

Bersyukurlah!

Kehidupan bergulir begitu cepatnya, terkadang kesibukan dan rutinitas kita sehari-hari membuat kita tak sadar akan jatah umur yang Allah berikan. Cepat atau lambat ajal pasti akan menjemput kita, khusnul khatimahkah? Atau malah sebaliknya? Na’udzubillah.

Saat manusia terlahir dari perut ibunya, mereka sama sekali tidak mengetahui sesuatu apapun, belum bisa mengucapkan kalimat, belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, belum bisa mencerna setiap apa yang terjadi dalam kehidupan. Dalam Al Qur’an dikatakan :

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl: 78)

Fasilitas yang Allah berikan kepada kita, berupa pendengaran, penglihatan, dan hati, sebagai alat untuk mengetahui setiap kalam-Nya yang tersirat dan yang tersurat, sudahkah kita optimalkan dalam penggunaanya? Banyak manusia yang terlahir didunia ini dalam keadaan cacat fisik (buta, tuli dan banyak lagi) akan tetapi mereka mampu membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukanlah umat yang terbelakang. Saya pernah menonton acara kickandy, saat itu tamunya adalah seorang tuna netra, bernama Ramaditya. Dalam kekurangannya dia mampu melihat dunia dengan hatinya, bahkan saat ini sudah menerbitkan sebuah buku. Tentunya masih banyak lagi yang serupa dengannya, dalam keterbatasan secara fisik, bukan malah menjadikannya minder dan tidak produktif, akan tetapi mereka justru bangga dengan setiap anugerah yang telah Allah berikan.

Sekarang kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kita bisa tau segala sesuatu dengan sangat cepat, kita tak buta warna, kita dapat mendengar, melihat setiap kejadian dibelahan bumi. Lalu, sudahkah kita bersyukur? Bentuk rasa syukur kita terhadap setiap pemberian-Nya adalah, menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya untuk bekal ibadah kepada Allah. Hingga saat hari pertanggungjawaban itu tiba, kita mampu untuk membuktikan bahwa kita adalah hamba-Nya yang setia.

Ilmunya Allah begitu luas, hingga ajal menjemput-pun kita tak akan mampu mempelajarinya. Belajar bukan saja dibangku sekolah ataupun kuliah, dimanapun dan kapanpun kegiatan belajar terus berjalan. Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).(QS. Al Kahfi: 109).

Kita sebagai hamba Tuhan yang telah dibekali dengan berbagai fasilitas tentunya mau untuk mensyukuri setiap pemberian-Nya. Menggunakan fasilitas tersebut untuk mempelajari ilmu pengetahuan (saya tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum, semua adalah sama) bahwa setiap pengetahuan datangnya dari Allah, dan mempelajarinya adalah wajib sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap anugerah-Nya.

Selamat Belajar!

Filed under: Religi

Lembar Putih Kehidupan

sekar aulia

( Cerita di bawah ini diambil dari satu kisah dua anak manusia dalam biografi-nya “Jarak Itu Takkan Memisahkan Kita, Zauji” yang di karang oleh “sekar Aulia. Kisah tersebut di atas, adalah kisah dua insan yang menjalin satu hubungan batin akan tetapi takut berdosa kepada Allah SWT. Sehingga mereka tidak mengambil jalan pintas untuk “berpacaran” melainkan mengesahkan hubungan tersebut dalam satu ikatan yang suci yaitu tali perkawinan” walaupun ikatan tersebut belum tercatat dalam catatan sipil, tapi setidaknya sudah sah di mata Allah SWT…sstttt….Zaujati, kore wa wareware futari dake no”)

Hime”
Biarkan aku terbaring dalam lelap malammu,

sejak ku kirimkan kidung kasih sayangku

Dan kau sambut dengan tatapanmu yg bening..

teduh menusuk sampai ke ujung pori

Saat itu aku berjanji dalam jiwa terdalam.

kan ku bawa kau kedalam bahtera terindah.

satu ikatan suci yang takkan bisa terpisah oleh apapun jua

Hana”
samar kudengar bisikmu ,” aku bukanlah “aijo-bukai josei”, han”

dan aku menjawab bisikmu,

“ yang kubutuhan adalah seorang wanita yang bisa mengerti dan menerimaku, yang bisa sama-sama bergandengan tangan menuju Syurga-nya”

dan kaupun menunduk dari pandanganku

samar kudengar kau menggumam,

“ ai To nikushimi wa kami hitoe nari, han”

aku-pun menjawab,

” Kenapa harus ada benci jika nantinya kita bisa belajar saling mencintai”

dan kau-pun mengangguk…tersenyum dan

kudengar satu kata terindah yang kau ucapkan dengan penuh ke-ikhlasan

Baiklah han, kore wa shudan wo kojiru”

dan denting syair kehidupanpun berganti irama.

satu persatu melody yang tadinya tak saling beriringan..

mulai selaras mengikuti jalan yang membentang

satu ikatan suci t’lah terjalin, di bawah rangkaian prosesi sakral

merangkai ayat-ayat cinta yg bertahmid… menyerukan Asma Allah dalam gema takbir

mengesahkan jalinan silaturrahim dua anak manusia yang berniat di hadapan Alloh SWT.

Untuk menjalani sisa kehidupan sebagai bekal menuju syurga-NYA.

***

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Ruum: 21)

Filed under: Religi

Aku Marah Karena Cinta

marahan yuuuk

Been given 24 hours

to tie up loose ends

to make amends

His eyes said it all

I started to fall

and the silence deafened

Nada dering ponsel yang aku setting dengan lagunya Jem 24 membangunkan diriku dari kelelahan, mencoba menguraikan ruangan yang masih terasa kabur dalam pandanganku, ada satu pesan masuk di hp, ku coba membukanya..

Sayang, udah bangun kan? :-* aku msh disanggar senam yah, love u :-*

Kututup sms dan kubuka Yamee, masih ada beberapa offline message yang kubaca ;

“Sayang”

Ko diem aja?

Aku khawatir nich..

Td di sms juga diem

honey…

Hallo..

sayang, kamu marah ya? Maafin aku ya semalem ketiduran.

Aku diamkan semua message itu tanpa ku reply satupun. masih ada kekesalan yang menghimpit setelah semalaman aku belajar sendiri tanpa sapa-nya.

Aku beranjak dari tempat tidur, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, ku ambil air wudhu. Segar sekali rasanya walaupun mataku masih agak menyipit 5 watt pertanda rasa kantuk itu masih bersemayam.

Setelah menghamparkan sajadah, aku kembali bersujud dengan kekasih sejatiku, aku bersimpuh dan mengadu semua kekesalan dihati, mengadu semua unek-unek yang tersimpan didada. Setelah hampir tiga puluh menit aku bersimpuh, barulah kelegaan yang amat sangat kurasakan.

Dan aku di hadapkan kepada kesadaran bahwa cinta tidak boleh membawa perasaan kita kepada batas kemarahan, karena dalam cinta harus ada kepercayaan. Mungkin saja memang benar ketiduran atau memang tidak bisa masuk YM karena kegagalan koneksi. aku jadi teringat setiap kata-katanya

” Han…selalu berusahalah untuk posti (Positive thinking) yach, ga boleh neti-neti lagi lho”

Aku tersenyum setiap kali memandangnya, memandang senyumnya yang hangat. senyum yang senantiasa membuatku bersemangat. dan tanpa pikir panjang lagi, kuraih HP-ku dan ku reply messages-nya

“Pagi juga baby, aku gpp kok. semalem memang kesepian tanpamu, tapi pagi sudah mencairkan semuanya. temani aku belajar hari ini yach, ga boleh pergi-pergi lagi “

Dan message-pun terbalas

“30 menit lagi aku dah sampai di warnet han, memenuhi janjiku kemarin, uhm.. pake webcam kan ?”

Oops… aku bergegas kekamar mandi, setelah cuci muka, bersisir, langsung menuju warnet yang tak jauh dari apartemen yang ku tempati. Matrix Net adalah warnet langgananku, karena letaknya yang berada diantara tempat tinggalku dan Universitas Jendral Soedirman, dimana aku menimba ilmu di sana. setelah lama kunanti akhirnya… satu status terlihat “dewi’s status is available”

“Assalamualaikum”

Dan nun jauh disana….aku melihat senyumnya yg menghangatkan hatiku, tatapan yang teduh dan penuh cinta, suaranya yg tenang dan penuh kasih….. semoga akan abadi selamanya

:)

***

(Cerita tersebut hanyalah kisah fiksi belaka, menuangkan apa yang ada di benakku saat ini)

Cinta… manusia hidup dalam kecintaan, dari sejak lahir mereka memiliki kecintaan terhadap orang tua yang mengasuhnya, kecintaan terhadap lingkungan sekitarnya, dan saat beranjak dewasa kecintaan terhadap lawan jenis mulai timbul, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak… (QS. Ali ‘Imran:14)

Tapi perlu di ingat, kecintaan kita terhadap ‘makhluk’ tidak boleh melebihi kecintaan kita terhadap ‘Khaliq’. Buktikan kecintaan anda terhadap ‘Khaliq’ dengan senantiasa mengikuti pembawa risalah sejati, Muhammad SAW.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)

Filed under: Religi , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.